Kamis, 21 Juni 2012

Our Sweet Memory - Part 1

This is My Life

"손가락을 걸고 약속?"
(songalag-eul geolgo yagsog?)


KRIIING! BRUK!


"AAAW!" teriak gue kesakitan sambil mengusap-usap kepala yang terantuk pada pinggiran tempat tidur. Gue sukses terbangun dari mimpi indah gue gara-gara jam weker ini, tepatnya jam weker seharga Rp. 5.000,00 yang entah kenapa super tahan banting. Kenapa gue bilang super tahan banting? Yaah... karena jam ini udah gue lempar berkali-kali dan anehnya ga pernah rusak. Well, perkenalkan, nama gue Meike, siswi kelas 12-IPA-2 SMA Budi Kasih. Berambut panjang, lumayan tinggi sih, tapi agak tembem... hehe. Nah, di sekolah, gue punya empat sahabat kecil, dan mereka adalah...


"MEIII! BANGUN LO KEBOOO! LO PIKIR SEKARANG JAM BERAPAAA!?" jerit empat gadis secara serentak sambil menggedor-gedor pintu kamar gue. Ya, merekalah sahabat gue dari kecil!


Evy Maria alias Evy alias Vy, adalah gadis berambut hitam gelombang, berparas cantik layaknya gadis Korea, dan berbadan ideal. Dialah yang paling bijak dan berani dalam mengambil keputusan di antara kami berlima. Walau wajahnya seringkali tanpa ekspresi, ia sebenarnya mempunyai sisi galak gelap.


Gracia Anglani alias Gracia, adalah gadis blasteran Indonesia-Jerman berwajah polos. Walau usianya yang paling tua, sifatnyalah yang paling ga dewasa childish dan super lugu. Di balik sifatnya yang polos itu, Gracia menyimpan bakat terpendam dalam bidang sejarah dan hacking-cracking komputer.


Kristy Chandra alias Kristy, adalah gadis berponi mengambang ala Dora The Explorer, berambut hitam lebat, berpostur tubuh mungil dan kurus, serta berotak super encer terutama dalam pelajaran hitungan. Peringatan bagi yang mereka yang baru mengenal Kristy, jangan sekali-sekali mencari masalah dengan Kristy, atau kalian akan berhadapan dengan tatapan-mata-pembunuh-berdarah-dingin.


Tiffany Tumewu alias Tiff alias Fany, adalah gadis berwajah model (baca: super cantik!) dengan rambut sepunggung dan poni jatuh. Postur tubuhnya paling tinggi dan ideal di antara kami berlima. Di balik senyumnya yang menggiurkan memesona, ia merupakan tipe gadis yang bawel ceplas-ceplos namun sangat peduli dan setia terhadap sahabatnya.


Selain menjadi sahabat kecil gue, mereka juga merangkap sebagai jam weker kedua, guru privat, koki pribadi, dan teman sekosan gue selama beberapa tahun terakhir ini!


"Mei, lo semalem tidur jam berapa sih!? Tau ga, bangunin lo tuh jauuuh lebih susah dari nyari jarum dalam tumpukan jerami!" Dengan kesal, Tiffany merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur gue dan melipat tangan di depan dada. Wajahnya super cemberut, lengkap dengan bimoli (baca: bibir-monyong-lima-senti) dan pipi semerah kepiting rebus. "Ah, ga sampai segitunya kali, Tiff! Hehe... Maaf ya, habisnya semalem gue tidurnya sekitar jam 3-an gitu... Emangnya ada apa sih?" tanya gue cengengesan seraya menyeret kaki menuju meja belajar di seberang tempat tidur.


"JAM 3!? Serius lo, Mei? Sanggup lo tidur cuma tiga setengah jam? Salut deh buat lo! Apa sih yang lo lakuin sampai tidur jam segitu?" Kristy tampak berkacak pinggang di belakang gue sambil tak henti-hentinya berdecak kagum. "Kristy sayang, sekarang bukan saatnya takjub, tau! Kembali ke elo, Mei... Lo bilang, "Emangnya ada apa sih?"!? Emangnya lo mau kita semua dibunuh ama si killer Herlina!? Dia yang megang jam pertama kelas kita hari ini, kebo! Dan satu hal yang gue super yakin..."  Evy mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan hidung gue – "...yang lo lakuin semalem pasti bukan belajar buat ulangan hari ini, bener kan?” tanya Evy menyelidik.


Seketika bulu kuduk gue merinding mendengar kalimat terakhir Evy. "Vy, denger ya... Pertama, gue ga bakal pernah ngijinin si killer ngebunuh kalian, dan kalo emang pada akhirnya dia tetap ngebunuh kalian, siap-siap aja dia ada di tiang gantung Malaysia besok subuh! Kedua... ULANGAN APA MAKSUD LO!? SEJARAH!? KOK GUE GA TAU SIH!?” jerit gue panik sambil mengguncang bahu Gracia. "Ya ulangan Matematika lah! Sejak kapan si killer ngajar Sejarah? Gue tau lo punya memori otak itu ga besar-besar amat, kurang lebih setengah dari memori otak kami gitu deh, tapi masa sih memori tiga hari yang lalu aja lo udah lupa?" ujar Gracia dengan sepasang bola mata yang membulat terkejut dan nada bicara khasnya yang childish.


"Hah!? Maksud lo otak gue cuma muat dua teta gitu!? Eh, tapi serius nih, gue bener-bener ga tau apa-apa soal ulangan killer hari ini!" Dengan pasrah, gue menghempaskan diri di samping Tiffany yang masih terkapar di atas tempat tidur. Melihat wajah pucat gue, seulas senyum iseng mengembang di bibir Tiffany. "Gila lo, Mei! Lama-lama lo lupa ama kita semua! Hehe... Sana gih, cepetan mandi! Udah hampir telat nih!"